Pasti
enak jika hidup hanya berakhir ketika kita mati. Barangkali itu yang ada
dipikiran orang-orang yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Padahal tidak
demikian halnya. Hidup sesungguhnya justru setelah kita mati nanti. Saat hidup
di dunia adalah saat beramal, saat mengumpulkan bekal. Kehidupan di akherat
nanti adalah saat pembalasan, bukan lagi waktu untuk beramal. Tidak mudah untuk
mengajak hati agar selalu mengingat tentang hal ini .
Waktu
berjalan begitu cepat. Ada saat semangat kita melemah untuk mengumpulkan bekal.
Di saat lain kita begitu bersemangat untuk mengumpulkan bekal. Untuk itulah kanjeng Nabi berpesan agar
kita tidak meninggalkan tiga permohonan setiap selesai shalat. Pertama memohon
agar Allah menolong kita untuk mampu selalu berdzikir, untuk mampu bersyukur dan
untuk mampu beribadah.
Berbicara
tentang kemauan diri untuk beribadah tak pernah lepas dari kata 'hidayah'. Sebagai
bentuk pembelaan sering orang mengatakan "saya belum mendapat
hidayah". Memang hak Allah untuk memberikan hidayah hanya kepada siapa yang
dikehendakiNya. Tapi ada proses, ada tahapan yang biasanya terjadi sebelum
hidayah itu datang. Tidak 'ujug-ujug' langsung datang. Perlu partisipasi aktif
dari manusianya.
Jika
saat ini 'posisi' kita pada angka negatif, maka kita kita harus bergerak ke titik
nol dulu, melalui istighfar dan taubat. Jika sudah berada di titik nol, akan
lebih mudah bergerak lagi ke atas atau ke kanan.
Tinggal
berapa hari sisa usia anda? Mari kita bersama mempersiapkan diri untuk berjumpa
denganNya.
Banyuwangi,
17 Juni 2013 04.50 Wib

No comments:
Post a Comment