Beberapa
minggu lalu Allah mempertemukan saya dengan seorang sopir angkot dalam sebuah
moment. Ceritanya saya salah mengambil jalur angkot yang seharusnya saya naiki.
Malah menjauh dari titik pemberhentian yang saya kehendaki dan terjebak pada
ruas jalan yang macet di tengah terik matahari. Singkat cerita, semua penumpang
turun, kecuali saya yang duduk di samping sopir.
Saya
melihat sang sopir gelisah, sepertinya ingin berbalik arah dan mempersilakan
saya untuk turun dari angkot. Saya pura-pura tidak tahu kegelisahannya karena
saya berfikir toh saya akan membayar ongkosnya dan hanya bermaksud mencari
tempat pertemuan dengan jalur angkot lain untuk merevisi arah tujuan
perjalanan.
Sang
sopir yang kurang lebih seumur dengan saya akhirnya mulai membuka pembicaraan
(masih dengan raut muka agak kesal seperti hendak menyuruh saya turun tapi agak
segan dan juga karena angkotnya sedang 'stuck', ga bisa bergerak sama sekali).
"Mau kemana mas?" "Jalan Bandung, menengok anak saya" jawab
saya. "Tadi harusnya mas ambil jalur GL bukan LG.", katanya masih
dengan nada yang agak menyalahkan saya. "Itulah saya lupa GL atau LG, ga
pa-pa nanti saya oper di depan", saya menjawab dengan santai.
"Anaknya masih sekolah?" dia bertanya lagi. "Ya di MTS dan
tinggal di asrama sekolah. Saya senang dia sekolah di situ karena dia mendapat
pendidikan agama yang baik dan menjelma menjadi sosok yang lebih mandiri dan
rajin beribadah. Saya bahagia karena dia tidak seperti saya sewaktu kecil dulu,
ga kenal agama dan Tuhan saya".
Jawaban
saya langsung disambut dengan perubahan pada raut mukanya. Wajahnya menjadi
cerah dan rileks. Tanpa saya duga kemudian meluncur kisah diri sang sopir,
tentang masa lalu dan prosesnya berubah sampai hari itu. Banyak nasehat bijak
tentang kehidupan dan ajakan untuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan nanti.
Angkot
berjalan merayap sepanjang satu kilometer, pembicaraan mengalir menyenangkan.
Sepertinya sang sopir tidak tertarik untuk mencari penumpang. Dalam beberapa
menit saya mendapatkan suntikan semangat
dan pelajaran hidup. Ilmu tentang ketauhidan bisa datang dari siapa saja. Bagi
Allah tidak ada masalah apapun profesi seseorang. Yang membedakan seseorang
dari yang lain hanyalah ketaqwaannya.
"Sampek
ketemu maneh bes, tengkyu", kata saya berterima kasih atas nasehatnya.

No comments:
Post a Comment