Friday, May 20, 2016

Spiritual Journey - Nasehat Dari Sopir Angkot



Beberapa minggu lalu Allah mempertemukan saya dengan seorang sopir angkot dalam sebuah moment. Ceritanya saya salah mengambil jalur angkot yang seharusnya saya naiki. Malah menjauh dari titik pemberhentian yang saya kehendaki dan terjebak pada ruas jalan yang macet di tengah terik matahari. Singkat cerita, semua penumpang turun, kecuali saya yang duduk di samping sopir.

Saya melihat sang sopir gelisah, sepertinya ingin berbalik arah dan mempersilakan saya untuk turun dari angkot. Saya pura-pura tidak tahu kegelisahannya karena saya berfikir toh saya akan membayar ongkosnya dan hanya bermaksud mencari tempat pertemuan dengan jalur angkot lain untuk merevisi arah tujuan perjalanan. 

Sang sopir yang kurang lebih seumur dengan saya akhirnya mulai membuka pembicaraan (masih dengan raut muka agak kesal seperti hendak menyuruh saya turun tapi agak segan dan juga karena angkotnya sedang 'stuck', ga bisa bergerak sama sekali). "Mau kemana mas?" "Jalan Bandung, menengok anak saya" jawab saya. "Tadi harusnya mas ambil jalur GL bukan LG.", katanya masih dengan nada yang agak menyalahkan saya. "Itulah saya lupa GL atau LG, ga pa-pa nanti saya oper di depan", saya menjawab dengan santai. "Anaknya masih sekolah?" dia bertanya lagi. "Ya di MTS dan tinggal di asrama sekolah. Saya senang dia sekolah di situ karena dia mendapat pendidikan agama yang baik dan menjelma menjadi sosok yang lebih mandiri dan rajin beribadah. Saya bahagia karena dia tidak seperti saya sewaktu kecil dulu, ga kenal agama dan Tuhan saya".

Jawaban saya langsung disambut dengan perubahan pada raut mukanya. Wajahnya menjadi cerah dan rileks. Tanpa saya duga kemudian meluncur kisah diri sang sopir, tentang masa lalu dan prosesnya berubah sampai hari itu. Banyak nasehat bijak tentang kehidupan dan ajakan untuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan nanti. 

Angkot berjalan merayap sepanjang satu kilometer, pembicaraan mengalir menyenangkan. Sepertinya sang sopir tidak tertarik untuk mencari penumpang. Dalam beberapa menit  saya mendapatkan suntikan semangat dan pelajaran hidup. Ilmu tentang ketauhidan bisa datang dari siapa saja. Bagi Allah tidak ada masalah apapun profesi seseorang. Yang membedakan seseorang dari yang lain hanyalah ketaqwaannya. 

"Sampek ketemu maneh bes, tengkyu", kata saya berterima kasih atas nasehatnya.

No comments:

Post a Comment