Seorang
gadis kecil anak tetangga saya, telah membuat saya kagum dan
langsung memberikan pujian ketika kami berjalan bersamaan ke masjid kemarin
subuh. Beberapa hari sejak sebelum masuk bulan Ramadhan, saya memperhatikan dia
selalu melaksanakan shalat berjamaah di masjid hampir 5 kali sekali.
Yang menjadikan hebat menurut saya adalah karena hanya dia seorang dalam keluarga tersebut yang terus melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid. Saudara-saudaranya bahkan bapak ibunya pun juga jarang saya lihat melakukan shalat dengan berjamaah di masjid.
Yang menjadikan hebat menurut saya adalah karena hanya dia seorang dalam keluarga tersebut yang terus melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid. Saudara-saudaranya bahkan bapak ibunya pun juga jarang saya lihat melakukan shalat dengan berjamaah di masjid.
Pada
hari kedua pertemuan kami di jalan saat berangkat shalat subuh, iseng saya
bertanya kepadanya, "Mana saudaranya? kok sendirian?". Dia menjawab pelan,
"Masih tidur". Saya pun diam tak bertanya lagi. Tidak tega rasanya
membayangkan jawaban yang sama akan dia sampaikan jika saya bertanya tentang
bapak ibunya.
Dalam
beberapa langkah menuju masjid pikiran saya melayang. Betapa Allah telah
memberinya sesuatu yang luar biasa yang tidak diberikanNya kepada saudaranya
dan orang tuanya.
Bicara
tentang amal sholeh untuk kehidupan akherat, saya harus mendongak ke atas untuk
mencontoh mereka-meraka yang lebih hebat dalam beribadah.
Tak masalah jika saya
harus memilih gadis kecil ini sebagai cermin atau ukuran untuk mengetahui di
mana posisi saya dalam urusan ibadah. Tapi ketika bicara tentang dunia, saya
ingin selalu berusaha menengok ke bawah kepada mereka yang kurang beruntung,
agar langkah saya tidak tersandung batu-batu kesombongan dan kerakusan.
Setan
sering membolak-balikkan hati kita agar salah memilih cermin yang kita gunakan.
Waspadalah !
Banyuwangi,
11 Juli 2013 17.46 Wib

No comments:
Post a Comment