Hari
Sabtu kemarin saya mengantar anak-anak ke Kawah Ijen. Karena sudah dua kali
saya mendaki ke puncak, saya memutuskan untuk menunggu saja di area parkir
sambil memandangi orang beraktifitas. Dari hasil ngobrol dengan salah seorang
penambang belerang, baru saya ketahui ternyata mereka mulai bekerja (baca :
berjalan mendaki ke kawah) sejak pukul 24.00 tengah malam.
Mereka bisa memikul
turun belerang seberat 70-80 Kg sebanyak 2 kali sehari dengan total jarak naik
turun sekitar 16 km. Jam kerja mereka sekitar 12-15 jam sehari. Pertengahan
bulan Juli sampai akhir Agustus adalah saat terberat karena mereka harus
bekerja pada suhu berkisar 0 sampai minus 5 derajat Celcius saat menjelang
Subuh. Pada sebuah tulisan terbingkai rapi di dinding warung, tertulis
rata-rata usia harapan hidup mereka hanya 45 tahun.
Dari
salah seorang wartawan yang sedang membuat tulisan tentang kehidupan mereka dan
bertemu dengan saya di sana, dikatakan kepada saya bahwa meski para penambang
belerang ini hidup dalam kemiskinan, rupanya beberapa dari mereka memilih sikap
untuk tidak mau menerima BLT dari pemerintah. Mereka merasa malu dan merasa
lebih bermartabat selama masih bisa menghasilkan uang dari keringat mereka
sendiri. Salut !
Sangat
ironis, dihadapan para pemikul belerang berlalu lalang, di samping tempat saya
berbincang dengan wartawan tadi, 5 orang berpenampilan cukup bersih yang
terdiri dari mandor para pekerja belerang, sopir travel pengantar turis dan
sebagian tidak saya ketahui profesinya sedang asyik berjudi dengan jumlah uang taruhan
yang cukup banyak untuk ukuran para penambang belerang tadi. Bahkan ketika hari
beranjak siang, dengan bertambahnya orang yang akan berjudi, maka dibukalah
satu meja lagi dibagian dalam warung untuk mengakomodir keinginan para gambler
ini.
Diantara
suara hempasan kartu domino ke meja dan celetukan heboh para gambler, salah
seorang dari mereka berseru, "Ya Allah piye kartu iki?" (Ya Allah bagaimana
kartu ini?). Entah apa sebutannya, lucu atau keterlaluan, karena dia menyebut
nama Tuhan di saat khusyu' berjudi.
Ketika
Allah memberi rejeki lebih kepada kita, sebenarnya ada sebagian dari rejeki itu
yang menjadi hak golongan yang tidak mampu, para fakir miskin. Bukan untuk
dihamburkan. Akan lebih hebat lagi jika rejeki yang dibagi tidak hanya sebatas
2,5% zakat penghasilan saja. Bersedekah dengan harta terbaik yang kita punya dengan
penuh rasa ikhlas hanya mengharap ridlo Allah, tentu mendatangkan segala
kebaikan untuk kita.
Kejadian
di Ijen mengharuskan saya mengingat kembali tentang apa yang sudah saya lakukan
selama ini. Mungkin masih banyak rejeki dari Allah yang belum saya gunakan di
jalan Allah dan bahkan sebaliknya masih saya gunakan untuk bermaksiat
kepadaNya.
Semoga
Engkau selalu memberikan petunjuk, jalan yang lurus kepada kami. Amin.
Banyuwangi,
07 Juli 2013 05.58 Wib

No comments:
Post a Comment