Wednesday, June 1, 2016

Spiritual Journey - Berjudi Bersama Allah



Hari Sabtu kemarin saya mengantar anak-anak ke Kawah Ijen. Karena sudah dua kali saya mendaki ke puncak, saya memutuskan untuk menunggu saja di area parkir sambil memandangi orang beraktifitas. Dari hasil ngobrol dengan salah seorang penambang belerang, baru saya ketahui ternyata mereka mulai bekerja (baca : berjalan mendaki ke kawah) sejak pukul 24.00 tengah malam. 

Mereka bisa memikul turun belerang seberat 70-80 Kg sebanyak 2 kali sehari dengan total jarak naik turun sekitar 16 km. Jam kerja mereka sekitar 12-15 jam sehari. Pertengahan bulan Juli sampai akhir Agustus adalah saat terberat karena mereka harus bekerja pada suhu berkisar 0 sampai minus 5 derajat Celcius saat menjelang Subuh. Pada sebuah tulisan terbingkai rapi di dinding warung, tertulis rata-rata usia harapan hidup mereka hanya 45 tahun.


Dari salah seorang wartawan yang sedang membuat tulisan tentang kehidupan mereka dan bertemu dengan saya di sana, dikatakan kepada saya bahwa meski para penambang belerang ini hidup dalam kemiskinan, rupanya beberapa dari mereka memilih sikap untuk tidak mau menerima BLT dari pemerintah. Mereka merasa malu dan merasa lebih bermartabat selama masih bisa menghasilkan uang dari keringat mereka sendiri. Salut !


Sangat ironis, dihadapan para pemikul belerang berlalu lalang, di samping tempat saya berbincang dengan wartawan tadi, 5 orang berpenampilan cukup bersih yang terdiri dari mandor para pekerja belerang, sopir travel pengantar turis dan sebagian tidak saya ketahui profesinya sedang asyik berjudi dengan jumlah uang taruhan yang cukup banyak untuk ukuran para penambang belerang tadi. Bahkan ketika hari beranjak siang, dengan bertambahnya orang yang akan berjudi, maka dibukalah satu meja lagi dibagian dalam warung untuk mengakomodir keinginan para gambler ini.


Diantara suara hempasan kartu domino ke meja dan celetukan heboh para gambler, salah seorang dari mereka berseru, "Ya Allah piye kartu iki?" (Ya Allah bagaimana kartu ini?). Entah apa sebutannya, lucu atau keterlaluan, karena dia menyebut nama Tuhan di saat khusyu' berjudi. 


Ketika Allah memberi rejeki lebih kepada kita, sebenarnya ada sebagian dari rejeki itu yang menjadi hak golongan yang tidak mampu, para fakir miskin. Bukan untuk dihamburkan. Akan lebih hebat lagi jika rejeki yang dibagi tidak hanya sebatas 2,5% zakat penghasilan saja. Bersedekah dengan harta terbaik yang kita punya dengan penuh rasa ikhlas hanya mengharap ridlo Allah, tentu mendatangkan segala kebaikan untuk kita.


Kejadian di Ijen mengharuskan saya mengingat kembali tentang apa yang sudah saya lakukan selama ini. Mungkin masih banyak rejeki dari Allah yang belum saya gunakan di jalan Allah dan bahkan sebaliknya masih saya gunakan untuk bermaksiat kepadaNya. 


Semoga Engkau selalu memberikan petunjuk, jalan yang lurus kepada kami. Amin.



Banyuwangi, 07 Juli 2013 05.58 Wib

No comments:

Post a Comment