Wednesday, June 1, 2016

Wheel Journey - Kisah sedih dari Ranu Pani

Tanggal 02 April 2016

Ini adalah kunjungan saya ke Ranu Pane dalam perjalanan bermotor dari Banyuwangi - Lumajang - Bromo via Senduro. Sabtu pagi yang cukup dingin ditemani gerimis kecil di musim kemarau. Ketika berhenti sejenak di Ranu Pani, kami bertemu dengan beberapa pengunjung yang pagi itu juga sudah sampai di sana. Seorang diantaranya juga pengamat lingkungan yang juga merasa prihatin dengan kemunduran kualitas lingkungan di sekitar danau.


Ranu Pani adalah objek wisata berupa danau di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.  Ranu Pani adalah bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).  Semula luas Ranu Pani berkisar satu hektare lebih, namun kini diperkirakan tinggal 0,75 hektare akibat laju sedimentasi yang cepat. Penduduk desa Ranu Pani berjumlah sekitar 2.000 orang.

Ranu Pani adalah salah satu titik berangkat untuk pendaki yang akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl. Desa Ranu pani merupakan desa terakhir sebelum Gunung Semeru. Desa ini dihuni oleh warga suku Tengger dan berada di ketinggian 2.100 mdpl. Setiap tahun, warga di desa selalu menggelar bersih desa dan ritual unan-unan yang dipimpin dukun adat. Penduduk desa Ranu Pani sebagai Suku Tengger, merupakan keturunan asli masyarakat Jawa yang hidup di era Kerajaan Majapahit. Beberapa warga desa berprofesi sebagai pemandu pendakian Gunung Semeru atau dikenal sebagai porter. Porter menyediakan jasa pembawa barang sekaligus pengantar para pendaki menuju puncak gunung. Profesi porter ini sering pula menjadi pekerjaan yang turun temurun. Semua porter Gunung Semeru tergabung dan dikoordinir dalam sebuah paguyuban. Pendaki yang akan menuju Gunung Semeru akan melewati dua danau di sekitar Ranu Pani, yaitu Ranu Regulo yang berada di desa Ranu Pani, dan Ranu Kumbolo yang terletak di lereng atas sekitar 5 jam berjalan kaki dari Ranu Pani.

Sepulang dari sana baru saya tahu bahwa tanaman liar di depan saya ini sengaja ditanam untuk menghambat laju pendangkalan di Ranu Pani.
Meski demikian masih saja menyisakan rasa perih karena degradasi lingkungan di sini berlangsung sangat cepat. 6 tahun lalu, batas pinggiran danau masih beberapa meter dari tempat saya berdiri. Sekarang air danau pun hampir tak terlihat dari tepian.


Selamatkan Ranu Pani agar tak terhapus dari Google Map.

No comments:

Post a Comment